Showing posts with label Pemikiran. Show all posts
Showing posts with label Pemikiran. Show all posts

Thursday, September 15, 2011

Mau Tahu Trik Petugas Bea Cukai Memeriksa Barang Bawaan Dari Luar Negeri?



Perjalanan ke luar negeri baik dalam rangka dinas atau jalan-jalan (note: perkecualian kabur dari KPK) begitu menyenangkan. Kecil kemungkinan untuk tidak membeli oleh-oleh. Bahkan ada motivasi tersendiri untuk membeli produk-produk elektronik yang harganya di sana jauh lebih murah. 

Namun kondisi di Indonesia begitu tidak menyenangkan. Dengan peraturan baru (PerMendag 22/M-DAG/PER/5/2010) diterapkan Pihak Bea Cukai akan mengenakan pajak bagi barang elektronik (bahkan katanya barang non elektronik pun) yang total belanjanya lebih dari $250. Sayang sekali barang yang seharusnya murah akan menjadi mahal yang notabene akan sama harganya dengan harga di Indonesia atau lebih mahal. 

Bagaimana mereka tahu kalau kita menyimpan barang-barang itu di dalam koper? Teknologi. Ya, teknologi scanning tingkat tinggi akan me-indra kan penampakan apa saja barang di dalam bagasi kita. Apalagi barang-barang elektronik. Itu sangat mudah di deteksi. Kadang kala juga dia membaca secara naluri "memburu". Orang yang perlente atau bagasinya bagus cukup mengundang hasrat. Dalam hal ini saya menyarankan sebaiknya bijaksana dalam belanja hingga tidak dikenakan pajak. 

Sebenarnya saya mempelajari alur perjalanan bagasi sampai ke meja pemeriksaan Bea Cukai. Pada pintu keluar, akan ada scanning terakhir dari pihak beacukai atas bagasi-bagasi kita. Diujung konveyer itu, mata petugas Bea Cukai tanggap melihat bagasi yang di bawa pemiliknya. Memang tidak semua bagasi di periksa karena alasan ramainya penumpang yang akan keluar. Saya perhatikan di ujung mesin scanning ada petugas yang mendapatkan kode dari petugas yang duduk di monitor scanning. Dia memberikan kode kepada petugas tersebut entah dengan cara apa hingga temannya akan memberikan kode pada bagasi atau koper dengan cara di tandai kapur. Kadang kapur putih, kadang kapur biru. Ini supaya temannya sebagai checker di meja pemeriksaan dapat dengan cepat menunjuk dan memeriksa tas yang di curigai membawa "oleh-oleh" .
Kalau kalian masih sempat untuk menghapus tanda kapur itu, hapuslah. Tapi liat kanan-kiri juga. Pengalamanku, kita masih sempat melakukan itu. Oleh sebab itu, siapkan tissue basah supaya cepat. Bermain cantiklah secantik mereka memainkan taktik mereka. Kemungkinan besar kalian akan lolos dari pemeriksaan kalau tidak mungkin mereka tidak curiga atas bagasi kalian tapi curiga dengan wajah ketakutan kita. Rilek saja lewati mereka..kalau perlu pasang nyengir terbaik kalian.

Ini hanya tips, kalau tidak berhasil anggap saja kalian warga negara yang baik yang taat akan pajak dan turut partisipasi atas pembangunan negara ini. Bukan begitu guys?

Thursday, August 25, 2011

Berselingkuh dengan Facebook




Wah kamu sudah di Papua sekarang, Wah anakmu sudah dua, Astaga, itu kamu, gendut banget sekarang, Hebat, kamu sekarang jadi pilot..!!
Kalimat di atas sering kali terlintas bahkan terucap dari orang yang sedang berselancar di Facebook. Apa itu Facebook. Rasio yang sangat kecil sekali bagi orang yang tidak mengenal facebook. Bahkan bagi anak di bawah lima tahun sekalipun. Ya minimal dia akan bilang, "mama lagi pesbukan".

Mencari Gajah di Tumpukan Jerami
Kalimat-kalimat di alenia pertama menunjukan kesaktian Facebook dalam mencari orang-orang dalam kehidupan kita. Bahkan orang yang menurut kita telah di telan bumi sekalipun. Buku kuning, mbah dukun bahkan interpol sekalipun terlindas dengan kesaktian Facebook. Dengan network nya yang mendunia, kita bisa mencari "orang" yang kita mau. Dekati "search", masukan nama lengkap, email dan beberapa parameter yang membuat hasil pencarian makin mengerucut. Tunggu beberapa detik, Simsalabim, orang yang di cari muncul. Kita akan lihat semua data dari orang itu. Pekerjaan, domisili, bujangan atau gadis, foto-foto bahkan saudara nya sekalipun. Memang ada yang menggunakan status "privacy" yang artinya tidak semua orang bisa melihat status atau data dari orang tersebut tapi dengan permohonan teman dan di setujui, semua bisa terlihat gamblang. Terlepas dia lebay dalam info nya atau tidak, rasanya Facebook telah memberikan resume total atas keingin tahuan kita terhadap orang ini. Ya, seperti mencari gajah di tumpukan jerami lah.

Touch.com
Apa sekedar tahu? Tidak cuma itu. Interaksi yang membuat bumi makin imut itu terbukti. Fasilitas chat atau percakapan online sangat diminati. Bukan hal aneh untuk messenger ini di banding Yahoo Messenger. Sama tapi karena messenger ini berlebelkan Facebook, makin istimewalah dia.  Saling sapa di beranda (wall), mengirim applikasi game yang bisa bermain bersama, emotion-emotion thing,share lagu, share photo, share film dan masih banyak lagi yang membuat teman-teman kita makin dekat dengan kita, atau sebenarnya ini pembuktian eksistensi kita. Belum lagi kecanggihan teknologi dalam genggaman. Ya, facebook telah hadir dalam saku kita, dalam handphone kita tepatnya. Tak ada alasan kalau ada yang bilang "aku tidak bisa lihat facebook hari ini". Setali tiga uang bohongnya kalau ada yang bilang "hari ini aku tidak bisa melihat matahari". Keep in touch bro...

Stastus pun bisa di Kakus
What your think? Ini kalau terjemahan kasarnya dalam bahasa Facebook yang di Indonesiakan "tulis apa yang mau kamu tulis". Sedang makan, tulis. Lagi sedih, tulis. Lagi di kakus, ya tulis. Sehari kita bisa  menemukan ribuan status dari teman-teman kita. Bermacam hal yang di tulis. Beberapa artikel bahkan sudah mengklasifikasikan status facebook dalam beberapa kategori eksistensi orang itu.

Beberapa contoh kategori:
Yang agamis: "terima kasih atas rejeki yang kau limpahkan hari ini padaku Tuhan" ;
Yang porno: "malam jumat, waktu yang tepat buat kewajiban laki-laki" ;
Yang idealisme: "kalau kita baik sama orang, orang juga baik sama kita" ;
Yang narsis: "baru nemenin mama beli kalung baru" ;
Yang moody: " aaah..dosen cerewet, jadi males kuliah "
Yang romantis: " izinkan aku menjadi lebah di mawarmu yang merah";
Dan seterusnya dan seterusnya...

Tidak ada yang janggal dari semua status-status itu, tinggal pemahaman dan penerimaan kita atas eksistensi jiwa orang itu. Mungkin facebook juga menjadi point of sharing tentang emosi orang tersebut. Di kala buku diary hanya diam di tulisi, si Facebook akan memberikan ruang bagi teman-temannya untuk memberikan komentar. Komentar yang bisa membuat dia senang bahwa ada yang memperhatikan statusnya. Tapi namanya juga komentar, kadang tak membuat si penulis status itu menjadi senang. Komentar yang terlalu sensitif membuat pertikaian frontal dan public view di antara teman-temannya.

Contoh saja " kucing kesayangan ku mati di makan anjing tetangga", lalu ada yang komen " biarin aja, itung-itung ngasih amal buat anjing tetangga". Lihat.., dari kesedihan si pemilik kucing akan menjadi murka yang berakibat adanya feed back comment "iya, kalau anjingnya dah gemuk, lu yang makan!!!!"

Poin yang penting dalam dunia facebook adalah, kesadaran dan biarkanlah mereka berbuat apa. Andai pun tidak suka, silahkan gunakan tombol hide,delate friend or block person. Habis perkara..

Menurut saya, selama tidak ada aturan dalam membuat status, monggo... Status mu ya dirimu..penilaian ya terserah temanmu.. Tetaplah berkarya dalam membuat status walau itu di dalam kakus..

Selingkuh dalam Facebook
Kita beranjak dalam segmen yang lebih seru. Alenia ini bukan untuk orang yang sedang mencari pacar atau istri. Bagi golongan orang ini, facebook tak ubahnya seperti pasar swalayan, yang mana dipajang rapi di rak-rak. Begitu juga di Facebook, di susun berdasarkan umur, status, lokasi bla..bla..bla..rapi dan sangat mudah di filter. Jadi silahkan saja.

Bagaimana kalau si pengguna kepincut lawan jenis di FB walaupun dia sudah punya pasangan? Ada yang bilang tidak bisa, FB terlalu open. Pasangannya akan tahu. Terus, bagaimana kalau orang itu membuat profil cloning, profil palsu yang dia gunakan untuk mencari yang "segar". Banyak jalan menuju serpong bro..

Awalnya hanya suka tampilan, jadi teman, komen status, share lagu berlanjut di chat, bahkan bisa kopi darat..siapa yang bisa membendungnya. Mungkin kalau managemen Facebook mengeluarkan peraturan melampirkan surat nikah atau Kartu Keluarga, sedikit, yaa sedikit bisa di minimalkan.

Cerita dari temanku.. Aku punya mantan yang dulu sangat aku sayang. Kami berpisah baik-baik. Dia menghilang, saya menghilang. 15 belas tahun kemudian kami bertemu di facebook secara tidak sengaja. Romansa itu pun bersemi kembali walau kami sudah mempunyai keluarga dan anak. Seandainya aku tidak bertemu dia di Facebook, mungkin sekarang kami tidak meninggalkan keluarga dan anak-anak kami...

Ada lagi...  Aku seperti katak dalam tempurung, menikah di jodohkan tanpa ada kesempatan memilih. Seorang istri yang baik tapi bukan seleraku dalam fisik. Suatu hari aku di kenalkan dengan dunia Facebook. Banyak wanita berparas cantik kulihat. Dengan sedikit ketekunan dan improvisasi laki-laki, sekarang istriku dua. Terima kasih Facebook...

Masih ada lagi... Punya pacar cantik tapi cerewet itu juga makan hati. Dia baik tapi  tak ada hari tanpa cerewet. Tidak ada perhatian lemah lembut yang dia tunjukkan. Sampailah aku bertemu Mia di Facebook, seorang yang cantik yang selalu menanyakan apa aku sudah makan atau belum, bagaimana kuliahku, pakai baju apa hari ini..wah indahnya hidup. Inilah harusnya pacarku. Inilah tipeku. Ku putuskan pacarku yang cerewet itu demi Mia. Hari-hari ku indah tapi hanya sesaat. Tiba-tiba saat aku menerima permintaan pertemanan yang di sertai pesan "Mia istriku...!!! Jangan ganggu dia, apa kamu tega mengganggu istri orang dengan 2 anaknya yang masih kecil-kecil?"

Mau lagi? Sudah 5 tahun kami pacaran sampai kejenuhan muncul di antara kami. Tanpa ku sadari aku tenggelam dalam Facebook. Tak kuhiraukan pacarku walau kami belum putus. Ku buat profil palsu dengan foto palsu demi mencari kesenangan dengan "teman" wanita yang baru. Sampai bertemu dengan seseorang yang menarik hatiku. Hari makin hari kami semakin dekat. Semakin curhat atas cerita kami yang sama. Jenuh dengan pacar masing-masing. Sampailah kami ingin bertemu langsung dan menampakan fisik kami sesungguhnya. Sungguh ini malapetaka atau muksizat, kami sama-sama terkejut, ternyata orang itu pacarku sendiri..

Dari cerita-cerita di atas, cukup menjelaskan fenomena selingkuh di kalangan Facebookers terlepas apa alasan dia selingkuh. Selingkuh di FB sungguh menyenangkan dan nyaman. Hingga wajarlah kalau FB tempat selingkuh paling nyaman di jagad ini. Tipe pria wanita yang kalian butuh ada di sini. Jangan takut itu hanya tampilan luar, dari status tiap hari yang dia buat, kita tahu tipe seperti apa wanita atau pria itu.. Contoh, kalau ada status pria seperti ini "wah, enaknya bangun siang, kekantor agak siangan juga gak apa. Si bos kan gak masuk", apa yang kalian nilai dari pria ini.. Gampang kan.. Contoh lagi status wanita "duh Bvlgari ku habis, gak pede nih" ..see.. Bagi cowok-cowok yang berkantung tipis akan segera mundur.

Buat kalian janganlah takut, selingkuh itu ada lah bagian dari jalan hidup. Kita demo sedunia dan facebook tutup, apa itu menjamin pasangan kita tidak selingkuh? Bahagiakanlah pasangan kita, kalau dia memang selingkuh berarti dia bukan jodoh kita.

Jadi, kita tunggu saja fenomena lain yang akan saya bahas dari dunia Facebook. Percayalah, masih banyak hal-hal tak tergali dari facebook. Dari yang legal sampai ilegal. Jadi jangan takut jadi Facebooker...!!!

Wednesday, August 24, 2011

Ada apa dengan BlackBerry



Fenomena Blackberry benar-benar bagai serangan masif meteor dari luar angkasa. Cepat, banyak dan berdampak luar biasa. Bagaimana tidak, hari gini nggak punya BB? Apa kata dunia. Jorgan yang harusnya kepunyaan Jendral Pajak ini akhirnya harus pasrah diambil oleh kaum pemuja BB yang diucapkan tanpa tedeng aling-aling kepada temannya.

Saya kadang miris mendengar perkataan itu dan berucap dalam hati, alangkah sombongnya orang ini. Membanggakan teknologi tak kekal dan produksi bangsa asing pula. Harganya relatif mahal bagi kelas keluarga menengah kalau mereka memilih BlackBerry Onix tapi relatif murah bagi yang membawa pulang BlackBerry Gemini.

Hand phone produksi Research In Motion yang berbasis di Kanada ini mengusung teknologi hand phone pintar (smart phone), walau menurutku handphone ini tidak pintar-pintar amat. Dengan aplikasi umum yang disesaki ke dalamnya seperti kamera, multi media, e-mail dan browser untuk berselancar di dunia maya. Lalu apa sih yang membuat BlackBerry ini menjadi fenomenal?

Meurutku pribadi, RIM secara sangat jenius membaca dan menyediakan hal yang sangat di butuhkan oleh manusia. Bersosialisasi. Ya, manusia sebagai mahluk sosial tak lepas dari namanya ,"gaul" Tak masalah berapa pun umurnya, gender, kapanpun, dimanapun. Yang penting mereka bisa berkomunikasi. Hand phone umumnya menyediakan jenis layananan SMS, MMS, E-mail dan berbagai aplikasi Messenger yang bisa di cangkokkan ke dalam hanphone yang ber O.S ( Operation System). Dengan layanan dari provider yang dari waktu ke waktu biayanya semakin murah dan kesediaan sinyal yang bisa merambah sampai ke pedesaan, aplikasi-aplikasi messenger dan jejaring sosial seperti Facebook, Friendster, Twiter dan masih banyak lain, dapat di nikmati dengan sepenuh hati. Lalu apa bedanya lagi dengan BlackBerry. 

BB punya BlackBerry Messenger (BBM). Sebuah aplikasi messenger yang terdedikasi hanya untuk BlackBerry (walau ada informasi bahwa BBM bisa di pakai di hanphone lain, namun saya belum telaah). Serupa tapi tak sama dengan Yahoo Messenger (YM), BBM membuat perbedaan yang membuatnya 'mahal'. Untuk bisa bermain dalam BBM, orang tidak perlu mendaftar ini itu di dalam internet seperti pada umumnya messenger. Begitu memiliki BlackBerry, penggunanya langsung bisa menggunakannya tapi...hanya sesama BlackBerry. Wah, repot dong..tidak bisa chat dengan user YM? Itulah yang saya katakan bahwa hal ini lah membuat BB menjadi mahal dan berkelas. Untuk YM dan gank nya, BB secara ikhlas membolehkan user mengunduh aplikasi YM atau FB ke dalam BB. Jadi BBM tetap terdedikasi dan ekslusive untuk pengguna BlackBerry semata. Akhirnya hal ini menjadi sebuah komunitas sendiri. Komunitas elit yang dipandang secara harfiah nya sebuah harga BlackBerry. Komunitas yang spesial seperti layaknya komunitas pengguna mobil Ferrari. Ada BlackBerry, gabung. Gak ada, minggir.

BlackBerry Messenger mempunyai kemampuan yang hampir sama dengan mobile messenger lainnya. Interface atau tampilan muka nya tidak terlalu istimewa. Jauh lebih cantik jika kita menggunakan e-buddy atau mig33. Kehebatannya terletak dari jaringan khusus yang menjembatani antar user. Jika instant messenger lainnya harus merjibaku mencari sinyal, BBM dengan melenggangnya melesat cepat di "jalan tol" nya sendiri. Bermain di jaringan GPRS, EDGE, 2G dan 3G membuat BBM nyaris sempurna untuk tidak membuat penggunannya kecewa karena pesannya pending. Dengan penawaran paket yang menurut saya relatif murah, let's say 5 rb per hari dari provider Telkomsel, para BBM'er puas melakukan apapun atas dunia maya. Obrolan di BBM sangat komunikatif. Dengan 2 jempol menari di atas Qwerty, tulisan cepat tercipta, terkirim dan di baca. Dengan cepatnya pula berbagai jenis file bisa kita kirim semudah mengambil es krim dari tangan bayi, memakannya dan mengembalikan cone nya kembali. Foto, musik, video, bahkan lokasi kita secara up date dapat kita kirim. Seperti yang saya bilang sebelumnya bahwa komunitas BlackBerry ini adalah elit maka di dalam komunitas itu dapat di buat komunitas lagi. Komunitas dalam komunitas. Maksudnya di BBM kita bisa membuat Group atau kelompok sendiri yang secara khusus bisa kita ajak bergabung. Segala macam group bisa kita buat. Anda alumni sebuah sekolah, buatlah group alumni sekolah itu. Punya group nongkrong, buatlah sesuka hatimu. Setelah jadi dan mengundang teman-teman yang memenuhi syarat group itu, rasa kan chatting yang sangat interaktif. Sedikit saja ada isu menarik yang terlontar, segala komentar terhambur dari tiap anggota tanpa ada daya menyetopnya. Asyik dan membuat dunia ini begitu sempit.

BBM

Saya tidak menyuruh kalian yang belum punya untuk membeli BB tapi ini adalah kilasan singkat salah satu kenapa BlackBerry begitu fenomenal. Juga untuk mencegah kalian kebingungan jika suatu saat ada yang menanyakan "berapa PIN kamu?". Itu bukan permintaan atas pin atm mu tapi itu adalah no PIN BB mu supaya bisa masuk ke BBM.


Jika kalian suka pasukan elite, selamat bergabung di pasukan BlackBerry.

Monday, August 22, 2011

Bagaimana pun Tidur Malam Lebih Berkualitas



Yup,bagaimana pun tidur dimalam hari lebih berkualitas dr siang..Why:

Ini terjadi di field,dah seminggu ini dpt shift malam yg walhasil kudu tidur siang..(tak ubahnya kayak Batman kasarung).Karena P' Budianto,tendem ku mo pulang cause shifnya di rubah satu hari..

Awalnya abis dinner bingung banget..ngantuk kagak,mandi malas,masuk kamar pun g..ya iya lah...apa ya istilahnya perubahan system tubuh..kayak2 Jet lag gitu deh..

Akhirnya di paksa tidur jam 9 mlm..n begitu harus bangun jm 3 dini hari...bete sih..tp kok ya seger begono...
Pointnya:

  • Malem ga ada yg ganggu,g ada yg buka tutup pintu..
  • A.C. lebih dingin
  • Gelap
  • Kenyang
  • Begitu bangun dah ketemu besok..(damn who said "tomorrow never come" !!)
  • Pas siang bangun, kemungkinan miss call kecil
  • G takut lagi liat matahari..no vampire figure any more...

Sunday, August 21, 2011

Perbedaan Garuda dengan Maskapai lain


Bukan lah kapasitas saya untuk menceritakan atau menjelaskan perbedaan burung-burung seperti judul di atas karena memang bukan burung secara harfia lah yang saya maksud. Artikel saat ini adalah saat saya harus menceritakan cerita "burung besi" yang berterbangan di langit Indonesia. Cerita tentang maskapai penerbangan yang ada di Indonesia. Tidak ada maksud mengecilkan perusahaan milik bangsa karena saya sangat cinta Indonesia. Anggaplah ini sebuah curhat atau bisa disebut kritik yang bisa mendewasakan dan makin di cintai publik. Hal ini juga berdasarkan pengalaman saya selama masa 4 tahun terbang bersama Garuda dan maskapai yang lain dalam kerjaan saya yang harus ke lokasi-lokasi kerja di hampir seluruh Indonesia.

Dasarnya saya hanya mau mengkomper atau membandingkan maskapai Garuda Indonesia Airlines dan maskapai yang lain. Saya tidak bisa menyebut secara spesifik maskapai yang lain itu karena saya beranggapan yang lain itu adalah sama. Dan parameter penilaian saya ada lah bukan soal teknologi pesawat yang mereka pakai tapi nilai sebuah service atau pelayanan terhadap konsumen. Parameter ini lah yang sangat sensitif bagi para penumpang. Kalau soal teknologi, jenis pesawat, atau pilot nya, saya yakin 90 persen penumpang tidak akan protes (atau tidak mengerti). Yang penting bagi mereka adalah selamat dan sampai tempat tujuan.

Garuda itu mahal. Betul,tepat sekali. Tiket Garuda itu mahal. Itu tidak bisa di pungkiri. Zaman yang semakin susah ini membuat masyarakat berpikir ulang untuk membeli tiket pesawat Garuda. Harga tiket Garuda bisa 2 kali lipat dari harga maskapai yang lain. Ya, 2 kali lipat bahkan 3 kali lipat. Padahal dengan harga ekonomi Garuda, konsumen bisa mendapatkan kelas bisnis maskapai yang lain. Kelas di mana penumpang mendapatkan "perhatian" lebih. Duduk di depan, ada sandaran kaki, dapat welcome drink, lap basah untuk menyeka muka, makanan kecil dan hal lain yang akan datang bertubi-tubi selama penerbangan. Benar-benar menyenangkan. Tapi bagi masyarakat kecil itu hanya mimpi. Yang penting bagi mereka adalah naik pesawat. Dan hal itu bukan mimpi lagi. Tiket pesawat selain Garuda semakin murah dan jasa transportasi udara bukan lah jasa yang mahal lagi.

Perbedaan bermula dari cara membeli tiket. Ada 3 cara membeli tiket pesawat. Lewat agen resmi maskapai itu sendiri atau melalui agen-agen perjalanan yang bertebaran di kota2 dan melalui internet dengan web site yang mewakili maskapai itu sendiri. Perbedaan yang terjadi saat kita membeli di agen resmi menurut saya adalah 'profesional' an dalam menghadapi konsumen. Ada perasaan lain saat saya berhadapan dengan para Costumer Service (CS) nya. Di Garuda, senyum nya berasa tulus di sertai gestur tubuh yang membungkuk memberi hormat dengan tangan di depan dada. Mengucapkan salam dan tidak terburu-buru atau sibuk sendiri. Di biarkannya kita menyampaikan rencana tiketnya,dengan mata tetap menatap kita. Seolah seorang ibu yang sedang mendengarkan keinginan anaknya.Benar-benar konsen. Maskapai lain sebenarnya melakukan hal yang sama. Tapi; Senyumnya sedikit, hormatnya sedikit, salamnya sedikit, to the point. Mengenyampingkan dia sibuk atau tidak, tapi ketergesaan itu membuat calon penumpang frustasi untuk menyampaikan apa yang dia mau. Apalagi dia harus bepikir extra apabila jadwal atau tiket yang dia harapkan habis atau mahal. Tatapan menunggu dari CS untuk sebuah keputusan membuat konsumen seperti di ujung tanduk.

Cerita membeli tiket di internet tidak terlalu membuat persaingan. Sama-sama melayani pemesanan on-line dengan cara memasukan asal dan tujuan penerbangan, tanggal, berapa jumlah penumpang. Maka akan keluar hasil berupa alternatif penerbangan dengan bermacam-macam jam terbang dan harga tentunya. Rasanya semua sama terlepas koneksi kita lelet atau kencang. Hal yang membuat saya beda adalah tampilan website nya. Kalau saya urutkan secara pribadi siapa the best dalam tampilan dan kemudahan berinteraksi, Air Asia juaranya. Disusul Lion Air, dan Garuda. Untuk Batavia dan Mandala, interface nya sama. Dan saya paling tidak suka dengan website Sriwijaya Air. Sedih juga secara saya adalah orang Palembang. Tapi untuk pemesanan lewat internet saya rasa hanya bisa di nikmati masyarakat kelas menengah ke atas. Karena ada hal yang wajib kita punya. Pertama, harus mengerti internet. Kedua, harus punya kartu kredit atau kartu debit. Hal-hal tersebut memang belum merambah ke masyarakat bawah tapi saya yakin syarat-syarat di atas cepat atau lambat bukan hal yang luar biasa lagi dan pembelian on line bisa melejit menjadi alternatif pertama secara masyarakat kita yang cenderung mencari kepraktisan.

Mau bertaruh siapa cepat terhubung dengan customer service antara Garuda dan Maskapai lain? Lebih baik jangan. Yang memilih Garuda jelas menang. Sama-sama menggunakan sistem telepon ber sub level. Artinya setelah menelepon nomor utama, akan terdengar suara merdu si mbak elektronik yang mengarahkan kita menekan tombol sesuai keperluan. Kebanyakan level nomor itu berisi informasi yang secara baku sudah di siapkan suaranya (semerdu mungkin). Tapi saat kita membutuhkan manusia yang sebenarnya, di sini lah perbedaannya. Setelah berhasil menemukan tombol yang harus ditekan untuk berbicara dengan service officer atau petugas pelayanan, menunggu tersambung adalah perbedaan pertamanya. Garuda secara cepat akan tersambung dan maskapai lain sampai suara permintaan "bersabar dan menunggu" berulang, kita masih akrab dengan gagang telepon yang setia menempel di pipi. Setelah tersambung, perbedaan kedua dimulai. Garuda service officer dengan ramahnya mengizinkan kita "curhat" dan benar-benar di dengarkan. Tidak pernah sekalipun ada percakapan terinterupsi seperti yang terjadi di gedung DPR. Satu gudang kata-kata yang kita siapkan, tidak akan tertinggal 1 huruf pun karena mereka memberi waktu sepenuhnya buat kita. Maskapai lain sebenarnya sama. Tapi yang saya rasakan ketidak nyamanan. Masih sama kasusnya dengan sebelumnya. Ketergesaan. Percakapan di kuasai sepenuhnya oleh petugas di sana. Celah berbicara sangat sempit dan berasa sekali kalau percakapan itu ingin di akhiri. Perbedaan ketiga adalah suasana. Coba dengarkan saat kita sedang berbicara dengan service officer garuda, suasana nya sangat sepi, dan suara sangat jelas. Bahkan suara ketikan keyboard nya pun samar terdengar. Bandingkan dengan maskapai lain. Pernah suatu waktu suasananya seperti pasar pagi. Bunyi printer, suara CS di sebelahnya yang sedang melayani konsumen juga. Ada teriakan yang mencari dokumen yang hilang. Seru sekali.

Soekarno - Hatta International Airport. Air port yang dulu sempat menjadi air port terbesar di asia, terletak di Cengkareng. Sekarang mempunyai 3 teminal penerbangan. Terminal 1 untuk maskapai selain Garuda, terminal 2 khusus garuda dan pesawat dari maskapai luar negeri dan terminal 3 untuk urusan haji serta beberapa maskapai dalam negeri untuk rute domestik. Saya tidak terlalu heran kenapa Garuda mendapatkan 1 terminal utuh untuk mengontrol pesawat-pesawatnya. Dan maskapai yang lain harus rela berdesakan untuk menerima penumpang dalam 1 terminal. Secara langsung atau pun tidak pemerintah mempunyai campur tangan atas pesawat-pesawatnya. Ditambah lagi dengan ada nya penerbangan luar negeri yang notabene akan membawa nama baik Indonesia.

Suasana Terminal 1 saat Peak Season

Saat akan check-in dengan menggunakan pesawat non garuda, terminal 1 menyambut penumpang dengan sesaknya tempat. Mulai penumpang, pengantar sampai calo. Butuh waktu untuk menyadari status mereka masing-masing. Jika saat itu peak season atau saat sibuk (week end, libur sekolah, hari raya agama atau hari libur kejepit yang bergabung dengan week end), akan terjadi penumpukan dan antrian yang berjubel di depan terminal 1. Kita harus nrimo dan sabar. Bagi saya itu bukan perbedaan. Prinsip ekonomi yang ku karang sendiri adalah ada murah ada konsumen.

Terminal 2 menyajikan suasana yang lebih kalem. Masuk ke terminal dua bagai masuk ke atmosfir elegan. Jarang sekali ku lihat pengantar yang berbondong-bondong. Penumpang datang sendiri dengan status menengah ke atas, pakaian fashionable, harum dan pandangan lurus ke depan. Kesombongan memegang teguh strata masing-masing. Tak jarang di terminal 2 ini bagai layar tv yang menayangkan acara gala selebritis. Ya, artis dan pejabat nomor wahid berseliweran siap pergi demi menunjang karir mereka. Para bule-bule bertebaran setelah menaruh uangnya di Indonesia dengan liburannya atau merampok uang Indonesia dengan bisnisnya.

Check-in Counter di Terminal 1

Di terminal 1, sepanjang meja check in, berupa-rupa counter yang terpampang. Penumpang harus tahu jiwa dan raga pesawat apa yang akan di naiki, dan kota tujuan yang akan di datangi. Tak ada guide yang akan mengarahkan kita ke meja mana kita harus check-in. Jeli melihat papan atau layar informasi di atas meja counter atau kita akan kebingungan. Pernah saya mencoba bertanya ke bapak security yang gagah di sana tentang di mana meja check-in pesawat saya, jawabannya "sebelah sana". Dan sebelah sana yang dia tunjuk bukanlah lokasi yang aku tuju. Setelah dapat pun, siap-siap antri dengan gaya jaman revolusi antrian beras. Sedikit sekali yang manganut paham antri. Sodok dan cuek. Beberapa kali kulihat urat tenggorokan menegang saat penumpang-penumpang itu mengumbar kemarahan karena posisi nya di sodok. Begitu face to face dengan petugas check in nya, kita sedikit tenang tapi tidak membuat rileks. Ke tidak rileks-an di perparah dengan orang yang mengantri di belakang berdiri terlalu dekat dekat. Padahal ada garis antri yang berada 1 meter di belakang meja. Saya hanya selalu membawa 1 tas yang akan masuk bagasi tapi proses check-in paling top kalau bisa tembus di bawah angka 5 menit. Saya selalu perhatikan gesture mereka saat bekerja. Kelihatan sibuk mengetik, mencetak stiker, mencentang list dan sungguh mereka lakukan dengan gerakan tergesa. Lalu kenapa mereka begitu lama? Ya, karena tergesa-gesa itu lah membuat mereka jadi lama. Juga saya menyalah kan sistem mereka yang payah. Mungkin juga sudah jadul. Sering lama menatap komputer yang sedang berusaha menunjukkan informasi yang dia mau. Kalau tidak berhasil, dia akan merseru " aduh..rusak lagi". Saya juga mencatat, petugas officer itu tidak pernah konsen melayani penumpang yang ada di depannya. Sering kali mereka berbicara dengan teman sebelahnya atau entah petugas dari mana tentang hal kerjaan tapi tak ada hubungan dengan penumpang yang sedang di layaninnya.

Garuda Check - In

Garuda sangat beruntung memiliki terminal khusus. Sepanjang meja check-in terminal 2 adalah milik garuda semua. Kalau tidak salah dulu Garuda masih menggunakan sistem check-in berdasarkan kota tujuan tapi 2-3 tahun belakangan mereka menerapkan general check in. Penumpang bebas ke meja mana yang mereka mau atau meja yang antriannya tidak panjang. Tapi sebelum nya Garuda menyediakan fasilitas ikat tas bagasi. Saya menerka sebenarnya hal ini lebih ke arah identifikasi bagasi saja. Rasanya dengan tali sekecil itu tidak sepadan dengan tas penumpang yang kadang sama besarnya dengan penumpang itu sendiri. Setelah selesai, pilih antrian mana suka. Antrian selalu rapi. Batas antrian 1 meter di belakang meja check in selalu di hormati. Sangat berefek baik dengan kinerja petugas di sana. Rata-rata kecepatan check in di Garuda adalah 3 menit dengan melayani 1 penumpang 1 bagasi. Pelayanan penuh keramahan dan percakapan ringan menanyakan maksud tujuan kita ke kota itu serasa pelayanan check in di resort. Catatan ku juga mengatakan kalau gerakan kerja mereka lebih pelan dari petugas check in dari maskapai lain tapi mengapa mereka lebih cepat? Apa karena petugas Garuda lebih senior (baca: lebih tua) daripada maskapai lain yang lebih junior (baca: lebih muda). Entah lah tapi itulah faktanya.

Sekarang kita beralih ke boarding room atau ruang tunggu pesawat. Disinilah puncak segala pelayanan di pertaruhkan. Tidak elok menceritakan perbedaan ruang tunggu antara terminal 1 dan 2. Dan rasa-rasa nya pun sama. Maskapai non garuda sering kali pesawatnya delay atau di tunda ke berangkatannya. Tidak main-main, dalam satuan jam. Biasanya pengumuman delay itu di awali dengan permintaan maaf dan alasan operasional. Delay setengah jam adalah janji surga pada awalnya. Penumpang masih bisa relaks. Bahkan melewati masa setengah jam, penumpang masih diam. Setelah satu jam, penumpang mulai mempertanyakan keterlambatan itu. Entah sudah di trainning sebelumnya atau tidak, para petugas maskapai di ruangan itu rasanya sudah sangat terlatih untuk memodifikasi alasan se elegan mungkin. Hingga penumpang pasrah. Pengumuman bertubi-tubi datang menjelaskan tentang penambahan masa delay jam ke jam. Marah, kesal, pasrah, teriak, diam. Bahkan ada yang menangis dan bisa saya pastikan penumpang itu sudah kehilangan momen penting dalam hidupnya di karenakan keterlambatan itu. Bagai anak kecil, penumpang dilunakkan emosinya dengan di beri roti yang tidak jelas isi nya dan air mineral kemasan gelas. Pengalaman saya terburuk dalam delay adalah 5 jam. Mungkin ada di antara kalian yang mengalami hal lebih parah dari yang saya alami. Hal diatas adalah suasana saat terjadi delay saja. Kadang mereka on time juga tapi sangat jarang.

Garuda bukannya tidak pernah delay. Pernah tapi jarang. Delay setengah sampai 1 jam yang paling sering. Itu pun sebagian besar sudah di beritakan saat kita check in. Jadi kita sudah bisa berencana mau ngapain di masa delay ini. Mau pulang dulu atau makan dulu, semua bisa di atur. Jadi kalau saya berencana menggunakan Garuda, saya harus on-time. Kalau maskapai yang lain juga harus ontime, kalau tidak tiket kalian hangus.

Ya, ada hal lain di maskapai selain garuda. Jikalau kita telat 5 menit saja dari masa tutup check-in (biasanya 1 jam dari waktu take off pesawat), tiket di anggap hangus. Kerugian sekali bagi calon penumpang itu. Agar tetap bisa terbang, dia harus membeli kembali tiket yang hangus itu dengan harga yang ajib-ajib. Trus bagaimana kompensasi dengan waktu delay yang di akibatkan oleh maskapai itu, apakah kue yang tak jelas isi nya itu bisa membayar kerugian para penumpang? Hmmmm.... Maskapai yang aneh..

Kelebihan Garuda yang menurut ku asyik adalah Garuda mengeluarkan kartu Garuda Frequent Flyer (GFF). Dengan kartu ini para penumpang mendapatkan beberapa keuntungan. Mau tau, buka web site nya aja deh. Yang pasti ku ingat adalah program pengumpulan poin. Setiap kali terbang, kita akan mendapat poin sesuai jarak terbang kita. Semakin jauh maka semakin banyak pula point yang akan kita dapat dan point-point itu dapat kita tuker dengan barang atauuu...tiket gratis. Asyik kan...

Menuju ke dalam pesawat. Dengan berat hati Garuda unggul (lagi) dalam hal ini. Saat waktu boarding di umumkan, penumpang akan masuk sesuai dengan bagiannya. Di boarding pass penumpang tertera sticker warna yang bertulisan front row, mid row, rear row. Penumpang rear akan masuk duluan kemudian mid dan terakhir front. Cepat dan teratur sekali masuknya. Maskapai lain tidak memiliki fasilitas itu. Begitu pengumuman boarding di umumkan, serta merta mereka ingin masuk duluan seolah-olah takut di tinggal pesawat. Alhasil kemacetan seperti jalan sudirman Jakarta berpindah di dalam pesawat.

Pramugari Lion Air
Pramugari Air Asia

Didalam pesawat. Ehm, Garuda harus mengakui pasukan pramugari maskapai lain. Dari tampilan nya, maskapai lain mempunyai pramugari yang seolah lulusan elite model school. Muda, tinggi cantik. Sekejab kita melupakan kekesalan delay yang terjadi karena wajah-wajah bening tadi. Tapi. Hanya sekejab. Kenapa? Mereka hanya sedap di pandang mata tapi tidak bisa diterima di hati. Pandangan mereka sombong. Entah apa yang mereka sombongkan. Kecantikan atau karena ge-er menjadi pusat perhatian. Tidak ada senyum tulus bahkan tidak tersenyum. Ini fakta. Keterampilan mereka melayani penumpang masih harus belajar lagi. Pernah suatu waktu, seorang pramugarinya berkata ketus kepada ibu tua yang bingung menaruh tas nya. Saya tahu ibu ini dari desa dan mungkin baru pertama kali naik pesawat. Bukannya di pahami, malah makin di tindas atas kebingungan ibu itu. Sudahlah, jadilah pramugari itu makanan empuk emosi ku. Ku permalukan pramugari itu di depan penumpang lain. Puaslah hati ku...

Pramugari Garuda

Pasukan Garuda tidak usah berkecil hati. Walau sudah tidak muda lagi (tua rasanya terlalu sarkasme), tapi profesionalisme kerjanya, dua jempol terangkat. Senyum yang elegan dan pemilihan kata-kata yang membuat penumpang terhipnotis mengikuti maunya pramugari itu. Rasanya mereka lebih cantik dari pramugari maskapai lain.

Pemaparanku di atas adalah sah dan meyakinkan atas pengalamanku bersama mereka bertahun-tahun. Kita juga harus realistis. Mungkin saja perbedaan itu terjadi karena perbedaan harga tiket hingga Garuda dapat mengoptimalkan kinerjanya. Juga bantuan pemerintah atas Garuda dengan bantuan biaya dan segala fasilitasnya. Tapi bagiku pelayanan adalah pelayanan. Perusahaan jasa harus kena di hati konsumennya. Sekarang berpulang kepada anda semua mau memilih maskapai mana. Semua ada plus minus nya.

Saturday, August 20, 2011

1 Pertanyaan yang Belum Terjawab


Ini tentang saya banget. Dari dulu saya memikirkan jawabannya, mencoba bertanya sampai baca-baca buku psikologi. Ya takut-takut saya sudah gila stadium berapa gitu. Cuma memang saya penasaran banget (kayak arwah aja penasaran) sama penjelasan logis. Tapi ya belum nemu.

Secara saya seorang traveler yang dari 1 lokasi kerja ke lokasi lain dan sering menjumpai situasi seperti ini. Pertanyaanya, kenapa kalau kita menuju ke tempat yang baru dan jauh, kok rasanya lama banget. Tapi pas pulangnya dengan rute dan kondisi jalan yang sama terasa lebih cepat?

Nggak penting banget ya pertanyaannya. Tapi ya sudahlah..siapa tau ada yang tahu jawabannya..